Cogitation

Survival …

Kebanyakan orang menterjemahkan survival hanya untuk di medan-medan yang sulit, dihutan, digunung, dilaut ; bener ? mungkin iya, karena teknik survival itu sendiri sepertinya dibuat untuk itu, sebuah teknik yang ditujukan untuk mengasah kemampuan seorang manusia dikondisi ekstrem dan tujuan akhirnya adalah survive, ya bertahan hidup (“ tetap lestari ”, terjemahan di salah buku pusataka LIFE jadul yang pernah aku baca),  menarik bgt, kayak bermakna dalam dari hanya sekedar hidup bertahan hidup.

Tapi kadang kepikiran juga, apakah iya hanya untuk bertahan hidup di tempat ekstrem seperti itu ? kadang terlintas dibenak aku ngak tuh, karena bertahan hidup adalah instinct dari manusia, atau bahkan makluk hidup, jadi seharusnya ngak hanya ditempat-tempat itu saja. Jadi klo aku hidup didunia hari ini sebut saja dunia modern, ya aku juga harus bertahan hidup, harus bisa, dengan teknik-teknik dasar yang diajarkan tentu kurang relevan, tapi perasaan “ inti ” dari pelajaran survival itu sendiri nyambung dan bisa diimplementasi dimana saja, ya dimana saja, termasuk didunia modern, dikehidupan hari ini, di kehidupan sehari-hari.

Suatu hari ada cerita, adik-adik kelas aku disuru beli makanan disalah satu gerai makanan terkenal, lama banget, hampir 2 jam ngak balik-balik, ditelpon, otw katanya, tapi ngak sampe-sampe. Yang menarik adalah setelah penantian yang panjang itu, mereka datang, tapi bukan dengan makanan yang kita inginkan dari gerai makanan terkenal tadi, tapi malahan bungkus kertas coklat-coklat yang biasa kita temuin di penjaja makanan pinggir jalan, sontak temen-temen yang lain protest, loh kok ! …. harusnya kan burger, ayam, wraps, koq jadi pecel lele ? Setelah cerita panjang, akhirnya satu inti cerita tampil, mereka tidak berani, ngak pd masuk ke gerai makanan itu. Semua orang ketawa !.  Tapi saat itu aku tau dan aku paham, buat banyak orang itu hal biasa, tapi buat banyak orangpun itu ngak mudah.

Aku punya cerita yang mirip saat aku masih smp, saat itu aku anak kampung yang kemudian bisa masuk ke smp yang cukup favorit, aku ingat banget ; gerai makanan siap saji pertama franchised dari amerika dibuka dikota ku dan lokasinya deket dengan sekolah, dan setiap hari aku pulang dari sekolah selalu melewati tempat makanan itu. Klo akhir pekan aku lihat banyak teman-teman aku dari gank elite sekolah makan disitu, dan aku hanya lewat, ngebayangin makanannya kaya apa, rasanya kaya apa dan yang paling penting adalah harganya berapa ? Dan setelah beberapa minggu punya uang jajan yang tidak terpakai (sengaja ngak jajan tepatnya) khusus untuk makan ditempat itu, tapi …. Akupun gagal, ngak berani masuk karena takut kurang uangnya. Dari pada malu, ya udah ngak jadi aja, terus jalan pulang.

Sama kan kasusnya ? 😀 ; Tapi di hari kejadian itu menimpa adik kelas ku, aku sempat bilang sama mereka : “ kalo kamu belajar untuk survive dimedan berat dan ekstrem bisa, kenapa ngak bisa diterapkan ditempat dan hal yang harusnya lebih mudah ? “ Tapi sekali lagi aku paham, dan akupun sempat mengalami hal yang sama.

Entah terbawa kasus ini atau ngak, atau dendam masa kecil aku atau bukan, tapi sudah lama aku selalu men challenge diri aku untuk masuk dan menjajal banyak tempat baru, kebetulan dengan keberadaan aku hari ini, aku sedikit punya reserve dana dan sedikit fasilitas untuk itu, ya sekali lagi berkat Tuhan; akhirnya, aku belajar untuk masuk ke tempat-tempat yang aku belum pernah, dan seorang diri ; aku buka situs perjalan yang terkenal itu dan aku pilih targetnya dan aku buka google map dan …. Jalanlah aku sendiri. Seru juga ternyata, bisa cerita banyak sama diri sendiri dan orang lain, betapa sebuah “ penaklukan “ itu menyenangkan.

Dan hari-hari ini, aku enjoy banget kalo saat pergi ke negara yang baru yang belum aku pernah datangin, dan tiba-tiba “ dipaksa ” cari barang-barang / keperluan yang kita perlukan, dan sendiri …. mungkin klo buat orang lain ini seperti kamu di “ suntrungkeun “ (hahahha … ) tapi aku, dengan senang hati melakukannya, sebuah penaklukan diri sendiri dan kenikmatan adrenalin yang mengalir lebih banyak dari biasanya, menjelajah di horizon yang baru, tempat baru, manusia-manusia baru, tegang ? iyalah pasti tapi … saat semuanya selesai … rasa  yang sama yang aku rasakan saat berdiri di puncak-puncak gunung yang aku daki setelah beberapa hari berjalan dengan beban berat dipunggung  ; melegakan dan ah …. ngak bisa di deskripsiin lah.

Sebuah implemetasi lain dari pembelajaran survival aku pikir, anggap aja kota itu sebagai hutan dan apa yang kamu cari adalah jalan keluar saat kamu tersesat ; ngak pernah lupakan sama ini (langkah-langkah saat kamu tersesat) :

S : Stop & seating

T : Thinking

O : Observe

P : Planning

Terakhir tentang survival, definisi yang aku suka adalah definisi yang aku baca di buku Survival Manual Handbook karangan John Wiseman, katanya : “ Survival is the art of staying alive “, dan yang aku pahami dari kalimat ini adalah, semua orang akan mengadaptasi teknik-teknik dasar survival dengan caranya masing-masing dan semuanya hanya untuk satu tujuan, bertahan hidup !, jadi ngak ada aturan dan gaya dan cara-cara yang pasti karena survival itu sendiri adalah seni, sama seperti hampir terjadi pada semua seniman, karya mereka adalah unik dan merepresentasi pribadi sang senimannya itu sendiri.

 

–fg

 

 

Advertisements